DUA bulan terakhir atau mungkin sudah jauh-jauh hari, sering mendapat pertanyaan “Setelah lulus anakmu mau sekolah dimana?”, ketika menjawab “Pesantren”, pasti akan berlanjut dengan dialog yang sedikit menggelitik bagi sebagian orang.

Memilih melanjutkan jenjang pendidikan bagi anaknya ke ‘Pesantren’, adalah sebuah keputusan yang sangat tepat. Akan tetapi, masih ada saja lho yang menganggap jika ‘pesantren’ tersebut identik dengan faktor kenakalan. “Kok Tega amat sih”, ada yang berujar seperti itu. Bahkan ada juga yang mengatakan “Emang sudah tidak sanggup mengurus anakmu”, plus lontaran sinis lainnya.

Yuk Sahabat Kartini, kita simak pemaparan seorang akademisi, Eva Deswanti. Dari hasil pengamatannya, masyarakat sekarang belum bisa mengartikan apa itu ‘Pesantren’. Zaman modern seperti ini, sekolah dengan label boarding school, memiliki gengsi sosial yang cukup tinggi, dan rasa kagum, karena berlabel asrama. Tetapi ketika mengatakan, anaku disekolahkan ke pesantren, maka sebuah image langsung mengartikan, jika pesantren identik dengan kesederhanaan, fasilitas seadanya dan kondisi yang memprihatinkan.

Menurut Eva, sebelum memutuskan pendidikan yang terbaik buat anaknya, mari sejenak kosongkan pikiran. Bertanya ke lubuk hati, apa sebenarnya yang kita inginkan buat mereka?, menjadi anak mandiri kah?, anak cerdas dan beprestasi akademisi kah?, penghafal Al-Qur’an kah?, anak sholeh/sholehah kah?, pintar beragam bahasa kah?, atau yang penting ia sekolah di asrama untuk mengurangi beban di rumah?. Mana prioritas yang diinginkan?.

Setelah mengosongkan pikiran dan berfikir sejenak, Eva Deswanti mengajak mempilah-pilah sekolah yang memenuhi harapan tersebut. Eva menegaskan, sahabat harus menggaris bawahi, jika pesantren adalah boarding school tapi boarding school bukanlah pesantren!. “Mereka berbeda konsep dan tujuan. Jadi jangan terbolak-balik atau mencampuradukan setiap sekolah berasrama itu pesantren,” tandasnya.

Pesantren kental akan muatan religius tanpa melupakan pendidikan akademik. Sementara boarding, yang melebeli dengan nama-nama Islam saja belum tentu memberi porsi besar pada agama Islam, apalagi yang berlebel umum. Saat memilih pesantren pun, harus cermat, apa yang menjadi keunggulan pondok tersebut.

Anakmu Proyek Masa Depanmu

Bila menginginkan anak menjadi penghafal Al-Qur’an maka pilih pondok tahfidz, ada juga pesantren yang unggul dengan kajian kitab kuningnya, ada juga yang dikenal dengan penguasaan bahasa para lulusannya, ada yang hanya fokus ilmu agama tapi ada juga yang muatannya berimbang dengan kurikulum pendidikan umum.

Ibarat masuk ke mal atau supermarket, kita memang lebih mudah mendapatkan semua kebutuhan namun tidak dalam jumlah banyak/grosir. Demikian pula dengan pondok pesantren , bila ingin meraih semua pondok tersebut tidak mengkhususkan dirinya pada bidang tertentu. Pada level ini orangtua harus cermat dan banyak bertanya untuk mendapatkan referensi pondok pesantren yang cocok.

Eva merasa bersyukur ketika melihat minat saat ini untuk menyekolahkan anaknya ke pesantren. Kesadaran untuk memberikan bekal agama sebagai prioritas utama. Namun mari kita luruskan niat, berteguh hati untuk harapan apa yang ingin diraih. Juga jangan lupa kekompakan ayah-bunda dalam memutuskan ‘apakah anak kita mau dipesantrenkan?’, sangatlah penting. Akan timpang bila hanya satu pihak saja yang berkeras sementara yang lain setengah hati. Ini proyek masa depan bersama, kekompakan tim sangat dibutuhkan! Sekali lagi, selamat memilih sekolah untuk buah hati. (kh) ***

Facebook Comments

Check Also

Tim Gabungan Sisir Tempat Wisata, dan Lakukan Tes Swab Antigen

KARTINI – Kunjungan wisatawan ke sejumlah objek wisata di Kabupaten Kuningan ternyat…