RAMADHAN di 2020 ini begitu berbeda. Tidak terdengar lantunan tadarus bersahutan di pengeras suara baik dari mesjid atau mushola. Tidak ada pesantren ramadhan di mesjid. Begitu dahsyat pandemi ini berakibat pada tatanan kehidupan hingga nyaris melumpuhkan semangat setiap keindahan ramadan.

Lirih tangis dan isak tertahan diam-diam terdengar. Dari rumah-rumah tanpa kepala keluarga, saat para tetangga berbicara menu pertama sahur dengan aneka lauk-pauk sebagian diantara kita masih bersyukur ada sepiring nasi dan lauk sisa yang harus dihangatkan. Malah ada diantaranya yang masih kebingungan jika sekarang saya makan mungkinkah esok ada seseorang mengantar beras dan bahan keperluan lainnya setidaknya penyambung hidup untuk beberapa hari kemudian.

Jika ramadan kali ini begitu banyak kehilangan hampir sebagian besar keindahannya tapi semoga itu tidak mengurangi kekhusuan dalam menjalankan setiap ibadah yang dianjurkan di bulan ramadan. Berlomba-lomba mengumpulkan pahala kebaikan dibulan ramadhan, pada situasi seperti ini yang termudah adalah lebih peka mata, telinga dan hati kita dalam mendengar keluhan sesama. Cobalah berjalan beberapa blok dari rumahmu masihkah ada tetangga kita yang tidak bisa makan atau makan hari ini esok kebingungan.

Sahabat Kartini, berbagi itu tidak akan mengurangi apapun bahkan sebaliknya. Ramadhan mengajarkan kita banyak hal dari mulai menahan lapar agar kita bisa merasakan penderitaaan sesama yang selama ini kesulitan makan, belajar menahan sabar agar kita tidak lepas kendali saat kecewa dan menjadi gila karenanya, belajar bersyukur atas setiap hal yang kita miliki yang menurut kita tiada apa-apanya tapi untuk orang lain kehidupan seperti kita adalah bagian dari impian sederhana mereka.

Ramadhan tahun ini memang berbeda, pembelajarana untuk kita semua agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita pada Sang Khaliq dengan menjaga alam dan lingkungan, dengan saling menolong dan menghidupkan gotong royong, menjauhi saling mencaci dan menjatuhkan. Apapun yang terjadi pada negeri ini ada yang lebih penting dari saling menghujat dan meebar berita berlebihan yakni menawarkan perut-perut yang kelaparan, menghapus duka dari para fakir, memberi kegembiraan pada siyatim. Mari lebih peduli sesama, berbagi dengan keikhlasan hati, sedikit untukmu besar artinya buat mereka.

Oleh : Vera Verawati, Kuningan 2 Mei 2020

Facebook Comments

Check Also

80 Persen Kematian Akibat Serangan Jantung Ternyata Dapat Dihindari

KARTINI –  Jantung merupakan salah satu organ yang harus dijaga kesehatannya, a…