KARTINI – Perempuan kerap menjadi topik hangat diberbagai obrolan manapun, termasuk kebijakan pemerintah dalam ‘pengarusutamaan’, sekalipun implementasi dari kebijakan tersebut masih jauh dari harapan dan teori. Dalam kelender pun banyak sekali perempuan itu diidolakan, seperti melalui Hari Ibu, Women’s Day, maupun Hari Kartini.

Perempuan memang luar biasa, selalu menjadi pusat perhatian, daya tarik dan magnet perbincangan di berbagai sisi. Seolah tidak ada habisnya membicarakan perempuan. Maka tidak heran, jika seorang perempuan harus tetap menjadi seorang yang tangguh, saat situasi apapun, termasuk situasi genting oleh serangan Covid-19 ini. Serangan digital yang kerap melindas informasi, bahkan tidak sedikit yang sulit membedakan mana yang benar dan mana yang hoax.

Untuk memaknai Hari Kartini ke-141, di edisi kedua ini, kali ini http://kartinikuningan.net mencoba merangkum komentar dari berbagai elemen perempuan terhadap tantangan perempuan di zaman sekarang, dan bagaimana harus menyikapinya. Lalu, apa menurut pandangan mereka, ?

Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Kuningan, Hj. Rini Sudjiyanti. ‘Harus Menjadi Perempuan Yang Serba Bisa’

Era digitalisasi harus bisa menguatkan pondasi perempuan di berbagai segmen, karena perempuan adalah sebuah kekuatan keluarga maupun negara.  Jika perempuan tidak berusaha ingin pintar di dunia sekarang, maka tidak menutup kemungkinan, perempuan itu akan terus dibohongi, dan tentunya ketinggalan.

“Menjadi perempuan di era digitalisasi ini harus menjadi perempuan yang serba bisa. Karena perempuan saat ini menjadi tulang punggung dan sebuah kekuatan, baik untuk keluarga maupun negara, termasuk sebagai kekuatan ekonomi. Di era digitalisasi dan era tekhonlogi 4.0, perempuan tidak bisa tinggal diam, dan jika kita ketinggalan, maka kita akan tersisihkan,” ujar Rini.

Termasuk saat pandemi Covid-19, kekuatan keluarga tetap harus dijaga. Bagaimana supaya keluarga tetap sehat, dan tidak terpapar oleh virus tersebut. Maka seorang ibu, minimal harus jeli dan paham dunia digital dari sisi positifnya, yaitu berusaha mencari tahu bagaimana supaya keluarga tetap sehat melalui digital tersebut.   

Selain itu, Rini juga menambahkan, pihaknya selalu mensuport GOW untuk terus berkontribusi dalam pemberdayaan perempuan. Karena perempuan yang berpotensi itu cukup banyak, tinggal mencari tempat untuk menyalurkan potensi mereka serta tentunya harus ada dukungan dari diri sendiri, keluarga serta lingkungan. ***

Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD Kuningan, Saw Tresna Septiani. ‘Sempatkan Quality Time Bersama Ibu dan Keluarga’

Saw yang juga sebagai Ketua KPPI Kabupaten Kuningan ini sangat setuju jika perempuan memang kerap menjadi tema mengasyikan, termasuk oleh para pengambil kebijakan. Begitupula saat Pandemi Covid-19 ini, perempuan banyak yang tidak mau ketinggalan kiprahnya dalam berbagai pencegahan, menjadi garda terdepan, melakukan bhakti sosial dan lainnya. Begitupula momen Hari Kartini 2020 tetap dimaknai.

Maka ia pun meminta kepada perempuan yang saat ini menerapkan #DiRumahSaja#, untuk tetap menghormati Ibu Kartini yaitu dengan ‘quality time’ bersama ibu misalnya, karena ibu merupakan sosok Kartini masa kini yang punya peran besar dalam kehidupan kita. Kemudian bisa pula dengan berbagi cerita RA Kartini kepada keluarga.

“Dan kegiatan lain yang paling penting dalam memperingat Hari Kartini ditengah terjadinya wabah ini adalah membantu sesama agar dapat bangkit dari masa-masa sulit baik dengan berdonasi maupun dengan membantu menyebarkan himbauan pemerintah. Seperti misalnya perlunya sosial distancing, atau tips menjaga kesehatan untuk mencegah penularan virus, dan lainnya,” papar Saw.

Ia mengajak kepada semua masyarakat untuk menjadikan momen Hari Kartini ke-141 di tahun 2020 sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas sosial antar sesama dalam menghadapi beragam bencana. “Saya harap suasana mencekam karena virus ini bisa cepat berganti dengan suasana gembira seiring waktu menyambut bulan suci Ramadhan,” harapnya. ***

Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Putri Kabupaten Kuningan, Okky Asy’ari. ‘Perempuan Juga Sebagai Khalifah Filard’

Tantangan perempuan sekarang memang cukup kompleks. Kalau tidak dibarengi dengan ketahanan keluarga, wawasan dan ilmu yang beragam maka perempuan tersebut akan tertinggal. Namun mengenang para pahlawan dan pejuang emansipasi itu sangat penting, sebagai pijakan para perempuan Indonesia khususnya, supaya tidak lupa terhadap budaya dan jati dirinya sebagai anak NKRI.

“Perjuangan RA Kartini kemudian dianggap sebagai lahirnya kebangkitan perempuan pribumi Indonesia. Hal ini memberikan energi positif pada kelompok gerakan perempuan termasuk Korps PMII Putri bahwa perempuan memiliki potensi yang sama untuk berkembang dan menjalankan amanah sebagai kholifah filard (pemimpin di muka bumi),” ujarnya. ***

Laporan : Khazanah

Facebook Comments

Check Also

Menu Hemat Saat Uang Belanja Nyaris Tamat

KARTINI – Tanggal tua biasanya memang isi dompet sudah mulai menipis, apalagi ditamb…