KARTINI – Perempuan muda itu sangat malang nasibnya. Dulu periang dan suka membantu neneknya, tapi tiga tahun terakhir ini menderita gangguan jiwa akibat jatuh dan menyebabkan kepalanya terbentur. Ia pun sering berkeliaran.


Ia bernama Yanti (23 tahun), warga Karang Asem, Kelurahan/Kecamatan Kuningan. Untuk menuju ke rumahnya, harus masuk ke gang sempit, yang hanya cukup untuk satu orang. Nampak sepasang suami istri yang telah renta menyambut kedatangan kami. Mereka adalah orang tua dari Yanti, yaitu Kakek Otang dan Nenek Kasah.
Tersirat kecemasan dan kekhawatiran dalam wajah mereka saat kami bertanya tentang keberadaan putri bungsunya. “Ya Allah, Ibu haturnuhun, atos ngangken putri abdi, leres saminggon ayeuna si neng teh tambih teu tiasa diatur. (Ibu, terimakasih, telah menahan putri saya, udah seminggu si neng teh ga bisa diatur),” tutur Kasah sambil berurai air mata.

Kasah menceritakan tingkah putrinya yang saat ini kian menjadi, ia yang kini telah semakin menua tak bisa lagi berkata-kata tentang apa yang selama ini ia rasakan. Yang ia ingat hanyalah putrinya yang mau membantunya saat masih dalam keadaan sehatnya. “Dulu si neng pas masih sehat, ia mau masak nasi, bantu emih kerja buruh nyuci. Sekarang mah, Emih teh bingung mau gimana lagi. Apalagi si abah suka ga nyambung, kalau ngomong,” tuturnya.


Emih Kasah sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci, dan Abah Otang mencari rongsokan, namun untuk saat pandemi covid, penghasilnya pun tak ada. “Ya buat sehari-hari saya dari buruh cuci tapi sekarang mah makin susah untuk makan. Salami ieu dari pemerintah belum pernah mendapatkan bantuan,” tukas Emih Kasah perempuan tangguh berusia 73 tahun.

Keberadaan keluarganya belum menerima bantuan dari pemerintah dibenarkan oleh Ketua RT 04/08 Lingkungan Karang Asem, mengatakan sudah berkali-kali mengajukan permohonan bantuan untuk keluarga Otang dan Kasah, namun hingga saat ini belum juga terealisasi. “Padahal keluarga Bapak Otang dan Ibu Kasah selalu diutamakan untuk menerima bantuan tapi selalu tidak diacc, bahkan untuk bantuan saat musibah covid-19 saya sudah ajukan tapi ga tau nanti direalisasi atau tidak, saya juga bingung kenapa tidak diacc satu pun.” ujarnya.


Rudi berharap sebaiknya bantuan – bantuan yang akan diberikan kepada warga bukan hanya lewat daftar nama tapi didampingi juga oleh pemuda dan aparat yang berwenang agar bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat.

Sementara Sri Laelasari anggota DPRD Fraksi Gerindra, saat itu turut memberikan baju kepada Yanti yang tengah berkeliaran, ia sangat prihatin dan tenang ketika melihat Yanti sudah berada di rumahnya. “Saya mencari identitas Yanti, karena saya ingin membantu ia, untuk direhabilitasi di panti Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), dan mengupayakan agar Yanti bisa sehat kembali. Karena saya amat terenyuh bila melihat seorang anak dengan telanjang berkeliaran di jalan, saya amat sedih melihatnya,” harap Sri dengan mata berbinar.

Sri pun meminta photo Kartu Keluarga dan KTP kedua orang tuanya, yang akan dipergunakan untuk mendaftarkan Yanti ke sebuah panti rehabilitas. “Saya izin,bila nanti Yanti dirawat agar Abah dengan Emih ikhlas kalo Neng Yanti nanti dibawa untuk diobati,”pinta Sri kepada keluarga Yanti. (rohimah) ***

Facebook Comments

Check Also

Bersama Hujan Yang Selalu Datang Dipenghujung Sore

KUPANDANG dedaunan di dahan tinggi menjulang, hijau cerah daun hendak berbuah, putik mulai…