PEREMPUAN itu tidak lagi memberinya senyum. Kekecewaan yang terlalu besar menghapus setiap lembar cerita penuh keceriaan yang pernah terjalin diantara keduanya. Lelaki kecil diambang senja itupun hanya menghela napas panjang, hati kecilnya mengakui telah mengaburkan impiannya sendiri.

“Saya antar pulang yah,” ia bertanya pada perempuan berwajah oriental nan lembut dihadapannya. Sambil terus saja menikmati film yang ditonton di handpone tanpa sedikitpun menoleh ia menjawab, “ Tidak usah, saya bawa motor sendiri,” sambil beranjak keluar Parmin, lelaki senja berkepala lima yang masih melajang itupun segera menyalakan motornya, namun belum sempat dia pergi Gita memanggilnya, “Kang Parmin, mulai sekarang tidak usah khawatirkan saya, tidak perlu mengantar dan menjemput saya lagi, oh iya saya sudah bungkusin nasi dan lauk untuk Kang Parmin dan sudah saya gantung dimotor ,”

“Iya Git, terimakasih, saya pulang yah, Gita hati-hati,” Kang Parmin pun pulang membawa sebongkah luka yang dibuatnya sendiri. Tanpa sepengetahuan kang Parmin, Gitapun diam-diam mengembalikan sebuah kotak cincin indah yang pernah diberikan Parmin padanya, kotak cincin itu ia masukkan diplastik yang berisi nasi dan lauk-pauk untuk Parmin. Langit larut mendung mengiringi kepulangan Parmin.

Setibanya di rumah, Parmin langsung memasukkan motornya kedalam rumah, menutup pintu dan tenggelam bersama kesunyian. Rumah besarnya bagai kastil putri yang dikurung peri jahat ditengah hutan. Sepeti itulah rumah kebanggaan Parmin, besar dengan halaman luas yang dibiarkan rimbun dengan semak belukar, terlihat menyeramkan dari luar.

Sejak hari itu Gita tak lagi membuka komunikasi dengannya, buat Gita tidaklah sulit mengubah satu kebiasaan karena dia terbiasa menerima dan melihat kepergiaan orang-orang baru dalam hidupnya. 6 tahun menjanda mudah baginya kembali ke rutinitas biasanya, pergi dan pulang kerja sendiri, beruntung dia bekerja pada temannya sendiri. Dini, teman yang baik itu selalu mengkondisikan dan mempermudah setiap kebutuhan Gita agar bisa bekerja dirumah makan miliknya tanpa merasa kesulitan.

Tanpa pernah Gita sadari, sepasang mata yang beberapa saat lalu selalu memandanginya tanpa jeda itu, kinipun masih memperhatikan dari jauh. Singkat waktu dan kebersamaan yang dijalin bersama Gita meninggalkan cerita sendiri dihatinya. Gita yang kuat, ramah dan baik hati, yang selalu membuat orang-orang disekelilingnya nyaman dan bahagia. Waktunya kini dia habiskan untuk berdiam di rumah sesekali bercengkrama dengan Obang, lelaki autis berumur 25 tahun, anak tetangganya itulah satu-satunya orang yang berani menjadi temannya di rumah besar yang terasa dingin dan angker  itu.

Waktu menunjukkan jam 23.30 wib., saat dia terbangun, setelah yakin Keke putri  kecilnya terlelap, Gitapun beranjak menuju kamarnya sendiri, ia raih handpone dimeja untuk mengecek beberapa pesan. Sebuah pesan dari teman semasa SMA menarik perhatiannya segera dia memutar nomor tersebut, tak lama obrolan hangat terdengar diantara keduanya. “Ah, Gita yang ceria dia selalu dengan mudah menikmati hidupnya”, bisik bayangan itu. Lalu diam-diam segera menghilang. Tiba dirumahnya bayangan itu menuju sebuah kamar yang selalu tertutup dan tidak pernah dia ijinkan siapapun memasuki kamarnya dan karena itu pula tak seorangpun berani memasuki kehidupannya.

Ditekan stop kontak, lampu menyala temaram, dipandangi setiap sudut kamarnya, senyum tipis itu berubah menjadi tawa terkekeh disertai air mata yang menetes. Gambar-gambar wajah Dita berjejer dalam berbagai ekspresi, disentuhnya sebuah gambar Dita yang dicetak dengan ukuran 10R itu, disentuh lembut sepenuh hati, dipeluk dan dicium menggila. Puas menciumi poto, lelaki itu menuju pembaringan yang tertata dengan warna merah maroon, mulai berbicara sendiri.

”Gita lihatlah, ini kamar kita, kau bilang kau suka warna merah maroon, semuanya kubuat dengan warnamu.” Diraihnya guling yang telah dipasangi topeng bergambar Gita, dipeluknya erat dan Parminpun mulai terengah, terkulai puas dengan tawa dan air mata beriringan.***

Ditulis : Vera Verawati (Kuningan, 140420)

Facebook Comments

Check Also

Tim Gabungan Sisir Tempat Wisata, dan Lakukan Tes Swab Antigen

KARTINI – Kunjungan wisatawan ke sejumlah objek wisata di Kabupaten Kuningan ternyat…