Cahaya Ramadan Di Kedai Kopi (“Para lelaki yang Tetap Bertahan”)

“Jangan pernah nyaman dengan menjadi redup, karena redup sangat dekat dengan kegelapan”
February 22, 2020
Agum Gumelar “Turis Itu Sumber Devisa,Tapi Banyak Yang Tidak Memahaminya”
February 23, 2020

Cahaya Ramadan Di Kedai Kopi (“Para lelaki yang Tetap Bertahan”)

PERANG tidak pernah berakhir. Hari ini tentang cinta. Hari esok tentang harapan. Kau harus bertahan

Asap rokok bercampur kabut di kaki gunung. Lelaki kurus ringkih berjaket lusuh turun dari motor suzuki butut. Duduk diteras sunyi dengan segelas kopi dan gudang garam filter. Semua harus terlihat sempurna, lalu Matahari perlahan semakin tinggi.

Ramadan bergegas meluncur dengan motor bisonnya menuju kedai Waja Kopi. Beberapa hari ini begitu sibuk mengikuti undangan dan pertemuan di hotel. Hidup harus terus bergerak supaya berjumpa dengan rupa-rupa kesempatan. Diam bukanlah pilihan disaat kebutuhan-kebutuhan harus tercukupi.

Sore itu, kedai baru saja dibuka, ketika seorang pemuda tambun berkulit sawo matang memesan cappucino dan nuget.Kunci mobil dengan gantungan rosario disimpan di meja berdampingan dengan HP. Baru saja ia mengantar seorang PL melahirkan ke bidan. Ketubannya pecah dalam perjalanan dan berceceran di jok mobil grab yang ia miliki. Setengah mati membersihkannya kembali dari aroma amis yang menempel.

Tuntutan ekonomi yang menggiurkan menjebaknya masuk dalam pusaran dunia remang yang pekat tanpa jalan keluar. Bila malam tiba, menjadi jadwal rutinnya untuk menjadi anjelo. Dari kontrakan-ke kontrakan, dari sudut-sudut kota tempat para penguasa menghisap madu secara sembunyi-sembunyi. Sebab di dunia nyata mereka harus tetap terlihat sebagai pahlawan.

Hari ini, pemuda tambun itu baru saja mencuri babi dari kandang orang tuanya. Sudah lama ia tergila-gila perempua PL  dan tinggal bersama. Demi semua itu, kadang ia harus menipu sahabat-sahabatnya dengan membuat banyak cerita.Hutang menumpuk seperti sumur-sumur tua yang menyimpan banyak dedemit dan genderuwo.

Ramadan tetap bertahan menunggu, saat lelaki kurus ringkih berjaket lusuh turun dari motor suzuki bututnya. Eka langsung menyuguhkan segelas kopi susu sejagat disamping gudang garam filter yang tergeletak di meja. Malam semakin hening, tetapi jiwa semakin bising. Asap rokok memenuhi ruang, seperti kumpulan ruh yang bergentayangan. Bintang-bintang di langit saling berkedip. Saur masih beberapa jam lagi.

“Apa kamar, Mang”? Eka menyapa sambil menyodorkan pisang panggang.

“Kepalaku masih terasa sakit, di sini”. Jawabnya dengan mata terpejam. ***

By. Ki Pandita, Lereng Gunung Ciremai        

Facebook Comments

Comments are closed.