Oleh : Vera Vaerawati

IBU sosok terhebat yang kita miliki, apapun yang dilakukannya menjadikan kita adalah hal terbaik di hidupnya. Tidak peduli jika perutnya sendiri belum terisi, ibu selalu memikirkan apakah anak-anaknya sudah makan atau belum, tidur dengan nyenyak dan nyamankah kita atau tidak.

“Kalian makanlah, ibu sudah makan ko,” begitulah yang ibu lontarkan setiap kali waktunya makan. Dia selalu menjadi aktris terbaik saat mengatakannya, kita tidak pernah sadar kalau ternyata ibu belum makan karena menunggu barangkali ada yang tersisa dari makanan yang telah diberikan buat kita.

Disetiap waktu, bermula dari bangun tidur hingga kita kembali tidur dimalam hari, ibu adalah sosok yang sangat luar biasa, tidak pernah memperdulikan lelah, tak terdengar keluhnya, selalu tersenyum yang menyejukkan hati kita.

Di pagi buta ibu orang pertama yang terbangun, meluangkan waktu untuk bersujud dalam tahajud bermunajat dengan doa dan harapan terbaik untuk kita. Selesai itu, ibu mulai berjibaku dengan rutinitas dari mulai menyiapkan sarapan, mencuci piring, mencuci pakaian kita, merapihkan rumah hingga tergesa-gesa ikut bekerja membantu ayah mencari nafkah.

Sejak dalam kandungan hingga kita dewasa dan memiliki kehidupan sendiri-sendiri tak pernah berkurang cinta ibu pada kita. Namun saat kita berbahagia dengan segala limpahan dunia justru ibu yang pertama terabaikan. Meski begitu tak sedikitpun terlihat diwajahnya keluhan, melihat putra putrinya tumbuh dan memiliki kehidupan yang baik, ibu adalah orang pertama yang merasa bahagia ketika kita bahagia. 

Ketika ibu mengetahui kehidupan kita lebih buruk saat itu pula ada yang lebih remuk dalam hatinya, namun tetap tak terlihat dibibir yang selalu tersenyum.

Ibu, ada dan tiada dirimu kan selalu ada dalam hatiku’, serangkai kata indah dalam sebuah lagu terdengar samar-samar dari komputer didepanku. Tak terasa menitik air mata, teringat ibu yang telah almarhumah, sosok dan kerja keras serta cinta yang tiada berbatas padaku, bahkan disaat nafas dipenghujung masih sempat dia panjatkan doa terkhusus untukku.

“Semoga segera menemukan orang yang akan hidup ditakdirkan untuk membahagiakanmu nak, bersama saling mencintai membangun hidup penuh kasih pada keluarga dan sesama dan menuntunmu dan putra putrimu  menjadi hamba-hamba yang takut pada Allah,” lirihnya yang selalu terngiang ditelingaku.

Sahabat Kartini, sudahkah kita membahagiakan ibu ?? setidaknya jangan goreskan luka dihatinya. Peluk dan ciumlah ibu sesering yang kamu bisa sama halnya yang dilakukan ibu saat kita kecil hingga kini, pelukan putra-putrinya akan selalu menguatkan sosoknya, ibu. Doa-doa terbaik untukmu ibu,akan selalu kupanjatkan, semoga tenang ibu disana. **

Facebook Comments

Check Also

Putri Dongeng di Pondok Pinus

KARTINI– Negeri dongeng dan kastil serta putri yang cantik. Seperti tidak mungkin. T…