Terkait adanya acara peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Kuningan yang digelar oleh MAPELIJA (Masyarakat Peduli Lima Januari), di kantor salah satu media online, di Kabupaten Kuningan, Minggu (5/1/2020). Rany Febriani, Anggota DPRD dari Fraksi Demokrat menyikapi positif hal ini untuk memperkaya informasi kepada masyarakat Kuningan terkait sejarah daerahnya.
Menurut Rany, sifat dari sejarahnya sendiri itu kan kolektif artinya milik bersama (masyarakat) dan dinamis (berubah-ubah), sangat wajar kalau sejarah Kuningan itu banyak versinya, kita tidak bisa mengklaim 1 versi benar/salah karena dikembalikan lagi kepada masyarakatnya.
“sejarah itu kan ada periodesasinya, prasejarah dan sejarah, fase sejarah juga dibagi-bagi lagi, ada sejarah kerajaan, pra Islam, kolonial dll, toh sampai saat ini sejarah Kabupaten Kuningan masih berubah-ubah kok yang dibacakan setiap harjad, itu artinya sejarawan, budayawan dan pihak-pihak yang menangani sejarah Kuningan itu masih terus menggali sejarah Kuningan dari berbagai sudut pandang dari berbagai sumber” Jelas Lulusan S2 Filologi (kajian naskah kuno) Universitas Padjadjaran ini.
Kalo dari sisi filologis , menurut Rany banyak naskah yang menyebut-nyebut kuningan, tidak hanya 1 naskah, belum lagi dokumen-dokumen tulisan lain yang masih “menunggu” untuk dikaji.
“karena kalau ditinjau dari sisi keilmuan kita tidak bisa menyalahkan salah satu versi saja, semuanya sah dan dapat dijadikan sebagai penambah wawasan khasanah kesusastraan bahkan sejarah khususnya sejarah Kabupaten Kuningan” Lanjutnya.
Salah satunya dari sisi filologi saja, ketika berbicara naskah yang menceritakan sejarah Kuningan sudah ada puluhan mungkin ratusan, dan belum semuanya dikaji secara khusus, dari 1 bidang saja kan kita harus lihat material naskahnya, bahasa yang digunakan, aksaranya, tintanya, isi teksnya dsb, belum lagi ketika menemukan versi cerita yang beragam, dan tugas filolognya saja harus sampai menyimpulkan mana teks utama mana salinan belum lagi dari sisi arkeologi yang mungkin saja banyak bukti-bukti peninggalan masa lalu dikuningan, patilasan, makam-makam dsb, banyak disiplin ilmu yg harus dilibatkan…
Anggota DPRD yang juga Wakil Sekretaris Paguyuban Pasundan Kabupaten Kuningan ini  menjelaskan tidak bisa mengklaim versi mana yang paling benar/salah, justru tugasnya sejarawan dan budayawan yang berkecimpung dibidang sejarah yang mendalami ilmu sejarah memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara kerja sejarah, bagaimana khasanah sastra, sejarah, budaya kuninga, agar tidak menjadi provokasi kepada masyarakat awam.
“Dan penentuan hari jadi Kuningan itu tidak terpatok pada hasil kajian saja tetapi juga merujuk pada “kesepakatan” orang-orang terdahulu, ditentukan tgl 1 sept dengan rangkaian ceremonial yang biasa kita lakukan itu kan bukan sesuatu yang begitu saja, itu juga hasil dari kajian pemikiran dan kesepakatan para pendahulu” Jelas Rany
Terkait 5 Januari yang dicetuskan MAPELIJA (Masyarakat Peduli Lima Januari) sebagai hari jadi Kabupaten Kuningan, MAPELIJA (Masyarakat Peduli Lima Januari), Rany beranggapan boleh saja, hanya saja sebaiknya jangan dijadikan dasar satu-satunya untuk merubah hari jadi Kuningan yang sudah secara turun temurun dilaksanakan
“kalau untuk menambah wawasan dan khasanah sejarah sih yaa ga apa-apa.. boleh boleh saja kok,  justru ini adalah informasi baru yang harus diketahui oleh masyarakat luas, tetapi sebaiknya masyarakat juga diberikan pemahaman tentang teorinya, bagaimana kerja sejarah, sifat sejarah dsb, jangan sampai informasi baru ini justru menyulut masyarakat awam utk mendebatkan sejarah Kuningan (dalam arti negatif)” Ujar Rany.
Rany sangat mengapresiasi masyarakat Kuningan yang sudah mulai melek dan tertarik terhadap sejarah, banyak desa-desa yang akhir-akhir  ini mengkaji dan menyusun sejarahnya masing-masing, Rany mencontohkan sudah 2 tahun ini diselenggarakan milangkala Luragung Landeuh yang menurut naskah yang ditemukan oleh warga ternyata lebih tua usianya daripada Kuningan sendiri
” dan ini bukan sesuatu hal yang perlu diperdebatkan, sah-sah saja jika warga Luragung Landeuh mengklaim begitu karena ada buktinya, ada naskah peninggalan leluhurnya dan sebenarnya tidak menutup kemungkinan besok lusa akan berubah lagi jika memang ditemukan bukti sejarah baru yang dapat mematahkan bukti yang ada, dalam kajian disiplin ilmu sejarah dan kajian filologi itu hal yang sangat wajar” Jelas Rany
Bagi Rany, saat ini sudah gak jamannya lagi pembangunan infrastruktur,  sekarang harusnya lebih fokus ke pembangunan sdmnya, perkuat nilai-nilai tradisi sejarah budayanya supaya tidak punah nantinya, bukan hanya mempertahankan kesenian apalagi seni pertunjukan, budaya/tradisi lama, naskah kuno, sejarah, folklore juga perlu lebih diperhatikan, kalau berbicara budaya itu kan bukan hanya kesenian saja termasuk didalamnya sejarah, bahasa, pengetahuan, mata pencaharian, kepercayaan/religi,dll
“harusnya Pemda bergandengan tangan dengan para pemerhati sejarah, budayawan Kuningan (putra daerah) dalam menyusun, menginventarisir sejarah budaya kesenian, kalau dulu kan Pemda sampai harus bayar mahal peneliti dari universitas terkemuka untuk mengkaji sejarah budaya kuningan, sekarng sudah banyak generasi muda yang saya fikir mereka dengan sukarela berbakti untuk Kuningan mencurahkan segala tenaga pikiran dan ilmunya untuk Kuningan” Pesan Rany
Sebagai anggota DPRD, dengan fenomena ini Rany berharap adanya dialog budaya secara khusus yg dpt menginventarisir aspirasi budaya nantinya, dari penjelasan panjang lebar tadi intinya dengan adanya hasil penelitian baru yang menyebutkan hari jadi Kabupaten Kuningan tanggal 5januari itu tidak serta merta dapat merubah hari jadi yang biasanya di laksanakan tgl 1 september.
” Masyarakat juga harus faham tentang langkah-langkah dalam penentuan hari jadi, jadi tugas budayawan&sejarawan juga untuk memberikan pendidikan, pengetahuan sejarah dan budaya kepada masyarakat luas” Pungkas Rany

Facebook Comments

Check Also

Bersama Hujan Yang Selalu Datang Dipenghujung Sore

KUPANDANG dedaunan di dahan tinggi menjulang, hijau cerah daun hendak berbuah, putik mulai…