BAGIAN 1

OLEH : HJ. HENI SUSILAWATI

Tulisan ini ingin menyoroti bagaimana potret representasi politik perempuan di DPRD Kabupaten Kuningan Hasil Pemilu Tahun 2004-2019. Satu-satunya alasan mengapa hanya membahas hasil Pemilu selama 15 tahun terakhir yakni kepraktisan saja khususnya dari sisi ketersediaan data. Rentang perjalanan tiga kali Pemilu DPRD tentu saja diwarnai dengan banyak dinamika regulasi yang berkaitan dengan isu tindakan sementara yang diperlukan (affirmative action) berupa kebijakan kuota 30 persen sejak pencalonan anggota DPRD sampai dengan tahapan penentuan calon terpilih. Potret nyata juga menunjukan betapa tidak mudah mewujudkan representasi politik deskriptif perempuan di parlemen dengan target 30% anggota DPRD perempuan dari total keseluruhan para wakil rakyat yang bekerja di gedung Ancaran. Bagian satu ini akan difokuskan pada pemaparan data perempuan terpilih hasil pemilu 2004-2019. Selain fokus pada data perempuan terpilih, uraian tulisan ini juga akan menyentuh penjelasan mengenai elemen kepemiluan yang berkaitan dapil, jumlah kursi yang diperebutkan, pemenang pemilu, dan metode penentuan calon terpilih.

Pemilu 2004 digelar pada tanggal 5 April. Tercatat ada 8 parpol yang memperoleh kursi di DPRD Kabupaten Kuningan. Saat itu jumlah kecamatan sebanyak 29 dengan jumlah TPS sekitar 2.723. Ada tiga perempuan yang melenggaang ke Gedung Ancaran yakni Nining Kurnia yang berasal dari PAN, kompetisi di Dapil 2, nomor urut 1 dengan perolehan suara 4.372. Berikutnya Hj. Tati Suhari Samsi dari PKB, bersaing di dapil 2, nomor urut 1 dengan perolehan suara 2.041. Dan Atin G. Susmoro yang bertarung di Dapil 5, nomor urut 2 dengan perolehan suara 939. Undang-undang Pemilu yang digunakan yakni Nomor 23 Tahun 2003. Formula penentuan calon terpilih yaitu 100% BPP+nomor urut.

 Jumlah kursi yang diperebutkan pada Pemilu 2009 yakni 50. Pada Pemilu 2009 data menunjukan terdapat 6 perempuan terpilih yang berhasil mendulang suara terbanyak. Perempuan terpilih dari Dapil 2 dan 4 mendominasi kemenangan dari total 5 dapil dengan jumlah pemenang pemilu sebanyak 11 parpol. Sejarah pada Pemilu tersebut dengan jelas menunjukan tidak ada satupun perempuan terpilih dari Dapil 1, 3 dan 5. Hebatnya lagi, perempuan terpilih pada Pemilu 2009 yakni mereka yang memperoleh suara terbanyak di masing-masing parpol. Kokom Komariah kader PKS dari Dapil 2 dengan nomor urut 2 meraih 2.036 suara. Berikutnya Lin Yuliyanti dari PAN dengan nomor urut DCT 8 menorehkan perolehan suara sebanyak 4.337. Masih di Dapil 2, kader Golar dengan nomor urut 1 bernama Hj. Ade Hasanah, S.E.,M.Si. memperoleh suara 2.660. Kita lanjutkan pada Kartini DPRD dari Dapil 4. Kader PKS bernama Etik Widiati dengan nomor urut 7 memperoleh suara 1.1.43. Berikutnya kader PDIP Henny Chaerony Azizah dengan nomor urut 1 mendulang suara sebanyak 6.915. Dan terakhir atas nama Hj. Elli S. Rusliati, A.M.Keb., kader PDIP dengan nomor urut 4 sebanyak 3.465 suara.

Ciri khas yang menandai perbedaan Pemilu 2009 dengan Pemilu 2004 yakni pada metode penentuan calon terpilih yang didasarkan pada perolehan suara terbanyak. Bandingkan dengan formula yang digunakan di Pemilu 2004 yaitu 100% BPP+nomor urut. Putusan MK Nomor 22-24/puu-vi/2008 menjadi instrumen hukum yang final and binding atau final dan mengikat memerintahkan kepada KPU dan jajaran untuk menetapkan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak. Putusan tersebut bermula dari adanya sejumlah kalangan yang mengajukan judicial review atas pasal 214 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu. Pertama kali dalam sejarah Pemilu Indonesia, metode pemberian suara yakni dengan cara mencontreng. Saat itu Pemilu digelar tanggal 9 April, dilaksanakan di lima daerah pemilihan yang tersebar di 32 kecamatan dengan jumlah TPS sebanyak 2.317.

Kita lanjutkan pada gelaran Pemilu 2014. Undang-undang yang digunakan yakni Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemilu. Penentuan calon terpilih menggunakan metode suara terbanyak. Pemberian suara di surat suara dilakukan dengan cara mencoblos. Pemilu dilaksanakan di lima derah pemilihan dengan jumlah TPS sebanyak 2.317. Tercatat ada sembilan (9) parpol pemenang Pemilu yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014. Kabar baiknya, jumlah perempuan yang berhasil melenggang ke Gedung Ancaran mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009. Kita cukup bergembira karena jumlah perempuan di DPRD bertambah menjadi 11 orang, bandingkan dengan hasil Pemilu 2009 sebanyak 6 orang dari total 50 anggota DPRD terpilih. Caleg terpilih juga berasal dari parpol yang beragam. Hanya saja pada Pemilu 2014, caleg terpilih dari Dapil Lima tak satupun berasal dari kalangan perempuan. Dapil 1 ada tiga perempuan terpilih dari tiga partai yang berbeda. Pertama, Saw Tresna dari Golkar dengan nomor urut 3 sebanyak 3.369. Herawaty, S.H., dengan nomor urut 9 perolehan suara 1.069. Dan berikutnya dari Demokrat atas nama Hj. Titi H. Noorbandah dengan nomor urut 9 perolehan suara 2.614. Juara bertahan Dapil 2 masih dimenangkan oleh kader PKS bernama Kokom Komariyah dengan nomor urut 2 dan suara sebanyak 2.090. Kader PKB juga mewarnai kemenangan perempuan terpilih atas nama Hj. Neneng Hermawati, S.E.,M.A. dengan perolehan suara 2.152. Kader PAN dengan nomor urut 8 atas nama Lin Yuliyanti, S.E. memperoleh suara 4.021. Di Dapil 3 hanya ada 1 perempuan yang berhasil melenggang ke Ancaran yakni dari kader PAN bernama Nuripah nomor urut 12 dan perolehan suara 3.877. Selanjutnya empat (4) perempuan terpilih dari Dapil 4 mewarnai kemenangan perempuan di Gedung Ancaran. PKB menghantarkan kader terbaiknya Hj. Asanah, S.Sos.M.Si., dengan nomor urut 1 perolehan suara 832. Kader PKS yang satu ini juga termasuk juara bertahan. Etik Widiati dengan nomor urut 2 dan perolehan suara 1.887. Teh Etik melenggang yang kedua kalinya setelah memenangkan Pemilu 2009. Hj. Elli S. Rusliati, A.M.Keb., kader PDIP dengan nomor urut 1 sebanyak 2.735 suara. Beliaupun terpilih untuk yang kedua kalinya. Ibu Hj. Odah Saodah, S.ST. kader Golkar dengan nomor urut 3 meraih 3.875 suara. Empat dari enam perempuan yang memenangkan Pemilu Tahun 2009 berhasil mempertahankan kemenangannya. Lima wajah baru menghiasi Gedung Ancaran yang berasal dari beragam parpol.

 Dan terakhir hasil Pemilu 2019 yang digelar 17 April 2019 dimenangkan 10 parpol. Kandidat bersaing di lima daerah pemilihan dengan jumlah TPS sekitar 3.566. Jumlah perempuan terpilih stagnan di angka 11 dari total 50 anggota DPRD Kabupaten Kuningan. Lima perempuan terpilih hasil Pemilu 2014 berhasil bertahan, sementara 6 lainnya merupakan pendatang baru di Gedung Ancaran yang juga berasal dari beragam partai politik. Dapil satu dimenangkan oleh empat perempuan terpilih, dan satu diantaranya merupakan incumbent. Ibu Saw Tresna, S.H. dari Golkar dengan nomor urut 1 meraih suara 3.715. Berikutnya kader Gerindra atas nama Sri Laelasari dengan nomor urut 3 memperoleh suara 2.123. Kader PDIP nomor urut 3 bernama Elin Lusiana meraih suara 3.348. Kader Demokrat nomor urut 1 bernama Reni Parlina, S.E.Sy. meraih suara 4.629. Daerah Pemilihan 2 menghantarkan 3 perempuan terpilih dari tiga partai yang berbeda. Ibu Kokom Komariyah dari PKS dengan nomor urut 2 meraih 5.752. Partai Kebangkitan Bangsa juga mencatatkan kadernya bernama Hj. Neneng Hermawati, S.E.,M.A. dengan nomor urut 1 kembali terpilih dengan perolehan suara 3.688. Kader PDIP bernama Rosalina Devi Yanti dengan nomor 3 meraih suara 4.867 terpilih pada Pemilu 2019. Dapil 3 yang sering disebut sebagai Dapil neraka tercatat hanya menghantarkan satu perempuan terpilih bernama Ikah Barkah, S.E. dari Partai Demokrat dengan nomor urut 3 perolehan suara 2.907. Dan berikutnya Dapil 4 tercatat tiga perempuan terpilih, satu diantaranya merupakan pendatang baru yakni Rani Febriyani, S.S.,M.Hum dari Partai Demokrat dengan nomor urut 8 meraih suara 1.345. Sementara dua lainnya merupakan juara bertahan yakni Etik Widiati caleg PKS terpilih nomor urut 2 dengan perolehan suara 3.245. Satu lagi juara bertahan yakni Ibu Hj. Saodah, S.ST. kader Golkar dengan nomor urut 1 perolehan suara 4.561.

Saya memiliki beberapa catatan kritis dengan data hasil pemilu sejak 2004-2019. Pertama, juara bertahan di tiga periode menunjukkan perolehan suara mereka cenderung meningkat dari Pemilu ke Pemilu berikutnya. Ibu Kokom (PKS) pada Pemilu 2009 meraih 2.036, Pemilu 2014  3.090 dan Pemilu 2019 5.752 suara. Teh Etik (PKS) juga menunjukan perolehan suara yang cenderung naik yakni 1.143 (2009), 1.887 (2014) dan 3.245 suara (2019). Bu Neneng PKB juga sama secara berurutan 2.152 (2014) dan 3.688 (2019). Dan Ibu Odah tercatat meraih 3.875 suara (2014) dan 4.361 (2019). Ada kader PAN yakni Teh Lin perolehan suaranya relatif stabil diangka 4.337 (2009) dan 4.021 (2014). Kader PAN yang satu ini sebenarnya punya potensi bertahan di DPRD juga, namun sayangnya si Teteh memutuskan ga daftar lagi. Kedua, para pendatang baru silih berganti menghiasi gedung parlemen. Rata-rata hanya mampu bertahan satu periode, ikut kompetisi lagi namun tidak terpilih. Selain faktor ketatnya kompetisi, mereka yang tidak mampu bertahan hingga dua periode lebih patut diasumskan kualitas komunikasi kepada konstituen yang memilih mereka kurang maksimal. Faktor lain nampaknya perlu dikaji lebih mendalam. ***

Facebook Comments

Check Also

Akibat Pandemi Covid-19, Kondisi Perekonomian Kuningan Mengalami Tekanan Hebat

KARTINI – Kondisi perekonomian di Kabupaten Kuningan akibat Pandemi Covid-19 mengala…